Minggu, 29 Juni 2014

Pengertian Teori Konstruktivisme dan RPP




A.    Latar Belakang Masalah
Saat ini terdapat beragam inovasi baru di dalam dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Salah satu inovasi tersebut adalah konstruktivisme. Pemilihan pendekatan ini lebih dikarenakan agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga mereka mau mencoba memecahkan persoalannya. Pembelajaran di kelas masih dominan menggunakan metode ceramah dan tanya jawab sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk berintekrasi langsung kepada benda-benda konkret. 
Seorang guru perlu memperhatikan konsep awal siswa sebelum pembelajaran. Jika tidak demikian, maka seorang pendidik tidak akan berhasil menanamkan konsep yang benar, bahkan dapat memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajar bukan hanya untuk meneruskan gagasan-gagasan pendidik pada siswa, melainkan sebagai proses mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana mungkin konsepsi itu salah, dan jika ternyata benar maka pendidik harus membantu siswa dalam mengkonstruk konsepsi tersebut biar lebih matang.
Maka dari permasalahan tersebut, pemakalah tertarik melakukan penelitian konsep untuk mengetahui bagaimana sebenarnya hakikat teori belajar konstruktivisme ini bisa mengembangkan keaktifan siswa dalam mengkonstruk pengetahuannya sendiri, sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya peserta didik bisa lebih memaknai pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.
ANALISIS TEORI
dalam teori konstruktivisme bahwa belajar adalah proses membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata dari lapangan. Belajar bukan proses teknologisasi (robotisasi) bagi siswa, melainkan proses membangun penghayatan terhadap suatu materi yang disampaikan. Oleh karena itu, siswa diharapkan dapat terlibat langsung dalam melakukan kegiatan belajar serta aktif dalam berpikir. Siswa lebih diutamakan untuk mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi dan guru hanya sebagai fasilitator ataupun moderator. Teori konstruktivisme tersebut menjadi bagian teori kognitivisme yang dikembangkan oleh Piaget.
Tujuan penulisan
*    Kognitif
-         Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
-         Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
-         Untuk mengetahui model pembelajaran konstruktivisme.
-         Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dari model pembelajaran konstruktivisme.

*    Afektif
-         Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.

*    psikomotorik

*    pemahaman konsep secara lengkap.
*    Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu.
*    Untuk mengetahui alasan memilih model pembelajaran konstruktivisme dalam materi luas segitiga.

A.   PENGERTIAN  KONSTRUKTIVISME
http://2.bp.blogspot.com/-VQxDBbgNdEs/TuXEDzGU1hI/AAAAAAAAAMw/Z7YFmAeovgY/s1600/metode+mengajar+paikem.png
Konstruktivisme dalam arti dasar adalah membangun. Dimana yang dibangun adalah konsep/materi yang akan dipelajari, yang mana konsep tesebut dibangun oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran kostruktivisme di sini berarti suatu cara dimana individu atau anak didik tidak sekedar mengimitasi dan membentuk bayangan dari apa yang diamati atau yang diajarkan guru, tetapi secara aktif individu atau anak didik itu menyeleksi, menyaring, memberi arti dan menguji kebenaran atas informasi yang diterimanya.
Model pembelajaran konstruktivistik adalah salah satu pandangan dari proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran (memperoleh pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik kognitif. Konflik kognitif dapat diselesaikan hanya melalui pengetahuan yang akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalaman dari interaksi dengan lingkungan. Konflik kognitif terjadi ketika interaksi antara konsepsi awal sudah memiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu saja, sehingga perubahan yang diperlukan/modifikasi untuk mencapai keseimbangan struktur kognitif. Konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan dibuat atau terbangun di pikiran siswa sendiri ketika ia mencoba untuk mengatur pengalaman barunya berdasarkan kerangka kognitif yang ada dalam pikiran, sehingga pembelajaran matematika adalah proses memperoleh pengetahuan yang diciptakan atau dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui pengalaman transformasi individu siswa. Selain itu, pentingnya pemecahan masalah keterampilan, terutama ketika siswa bekerja atau belajar di bahan lain, akan memerlukan perubahan dalam proses pembelajaran.
Menurut faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada orang lain, karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru.  Seseorang yang belajar itu berarti membentuk pengertian atau pengetahuan secara aktif dan terus-menerus (Suparno, 1997).
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.


C. Tokoh-tokoh teori konstruktivisme
http://thegreatdecide.files.wordpress.com/2011/09/picture-of-piaget.jpghttp://www.psyking.net/a8eb1060.jpg 
  http://www.docstoc.com/docs/37275863/Jean-Piaget-_1896---1980_

Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual. Teori belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak berpikir melalui gerakan atau perbuatan.
          Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama yang menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan rangsangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan.
Selanjutnya, Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133).

2. Vygotsky

http://www.marxists.org/archive/vygotsky/index.gif
konstruktivisme sosial yang dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Dalam penjelasan lain mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.
Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial.  Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan Taylor,1993; Atwel, Bleicher & Cooper, 1998).
Ada dua konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin, 1997), yaitu Zone of Proximal Development (ZPD) dan scaffolding.
  • Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.
  • Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1997).  Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah.  Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.

Beberapa ahli konstruktivisme yang terkemuka berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna itu bermula dengan pengetahuan atau pengalaman sedia ada murid. Rutherford dan Ahlgren berpendapat bahawa murid mempunyai ide mereka sendiri tentang hampir semua perkara, di mana ada yang betul dan ada yang salah. Jika kepahaman dan miskonsepsi ini diabaikan atau tidak ditangani dengan baik, kepahaman atau kepercayaan asal mereka itu akan tetap kekal walaupun dalam pemeriksaan mereka mungkin memberi jawaban seperti yang dikehendaki oleh guru.
John Dewey menguatkan lagi teori konstruktivisme ini mengatakan bahawa pendidik yang cekap harus melaksanakan pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman secara berterusan. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan murid di dalam setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran.

D. PRINSIP-PRINSIP KONSTRUKTIVISME
Secara garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar mengajar adalah:
1.     Pengetahuan dibangun oleh siswa sendiri
2.     Pengetahuan tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid sendiri untuk menalar
3.     Murid aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan konsep ilmiah
4.     Guru sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan lancar.
5.     Menghadapi masalah yang relevan dengan siswa
6.     Struktur pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7.     Mencari dan menilai pendapat siswa
8.     Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Menyesuaikan kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa Dari semua itu hanya ada satu prinsip yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka mencapai tingkat penemuan.


C.     Lima Fasa Model Konstruktivisme
Fasa-fasa pengajaran berasaskan model konstruktivisme menurut `Children's Learning in Science Project' (Needham, 1987), 5-fasa adalah seperti berikut:
No
Fasa
Tujuan/Kegunaan
langkah
I
Orientasi
Menarik minat dan mengkondisikan  suasana.
Awali penyelesaian masalah sebentar, ditunjukkan cara oleh guru, tayangkan film, atau video.
II
Pencetusan Ide
Agar peserta didik dan guru sadar tentang ide-ide terdahulu yang sudah ada
Guru dianjurkan merancang aktivitas yang sesuai untuk membantu peserta didik mengubah ide asal mereka.
III
Penstrukturan semula ide





i. Pernjelasan dan pertukaran

ii. Pengungkapan kepada situasi konflik

iii. Pembinaan ide baru
iv. Penilaian
Menimbulkan kesadaran tentang ide-ide alternatif yang berbentuk saintifik.
Menyadari bahawa idea-idea yang ada perlu diubah sesuai fungsinya, dikembangkan atau diganti dengan idea yang lebih saintifik.
Mengenalkan idea-idea alternatif dan memeriksa secara kritis ide-ide yang tersedia dengan  sendiri
Menguji kebenaran  ide-ide yang tersedia.
Mengubah, mengembangkan atau bertukar ide

Menguji kebenaran ide-ide baru yang muncul.







Perbincangan dalam kumpulan kecil dan buat laporan

Perbincangan, pembacaan, input guru.
mengamati kerja peserta didik,
melakukan eksperimen.
IV
Penggunaan ide
Pengukuhan kepada ide yang telah dikembangkan dalam situasi baru dan biasa.
Guru mengevaluasi hasil proyek yang ditugaskan kepada peserta didik.
V
Mengingat kembali
Menyadari tentang perubahan idea murid. Murid dapat membuat refleksi sejauh manakah ide asal mereka telah berubah.
Mengambil kesimpulan, membuat catatan peribadi dan lain-lain.
F. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN SECARA KONSTUKTIVISME
Adapun ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah
1.     Memberi peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia sebenar
2.     Menggalakkan soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan merancang pengajaran.
3.     Menyokong pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan pembawaan murid
4.     Mengambilkira dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide
5.     Menggalakkan & menerima daya usaha & autonomi murid
6.     Menggalakkan murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru
7.     Menganggap pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
8.     Menggalakkan proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen.

D.    Proses Belajar Dalam Pandangan Konstruktivisme.
Proses belajar dari pandangan contructivistic dan dari aspek-aspek penelitian, peran guru, sarana belajar, dan evaluasi pembelajaran (Budiningsih, 2008:58).
1.     Proses pembelajaran konstuktivisme.
Konseptual proses belajar jika dilihat dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan informasi yang masuk dalam satu arah dari luar ke dalam pengalaman siswa melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara besar struktur kognitif. Lebih kedalam kegiatan belajar dalam hal proses daripada dalam hal memperoleh pengetahuan tentang fakta-fakta yang penting.
2.      Peran siswa.
Menurut pandangan ini belajar merupakan proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan harus dilakukan oleh penelitian. Siswa harus secara aktif melakukan kegiatan, berpikir aktif, penyusunan, dan memberi makna pada hal-hal yang sedang dipelajari. Guru harus mengambil inisiatif untuk mengatur lingkungan yang optimal yang memberikan kesempatan untuk penelitian. Tetapi pada akhirnya yang paling menentukan adalah terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri.
3.      Peran guru.
Dalam pendekatan ini peran guru atau pendidik membantu untuk membuat proses membangun pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransfer pengetahuan yang sudah memiliki, tetapi untuk membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya sendiri.
4.      Belajar alat.
Pendekatan ini menekankan bahwa peranan utama dalam belajar siswa adalah aktivitas membangun pengetahuannya sendiri. Semuanya seperti bahan, media, peralatan, lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan tersebut.
5.      Evaluasi
Pandangan ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai pandangan dan interpretasi realitas, konstruksi pengetahuan, serta kegiatan lain yang didasarkan pada pengalaman.
Model pembelajaran konstruktivis biasanya paling tepat bila diterapkan pada pelajaran sains, salah satunya adalah matematika. Ambil contoh yang paling mudah, yaitu dengan adanya matematika dikenal sebagai teorema Pythagoras. Mungkin teorema Pythagoras tidak asing bagi kita, dan bahkan mungkin sudah sering menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Di antara teorema ada banyak matematika, teorema ini merupakan salah satu teorema yang cukup terkenal. Bahan ini sudah dikenal sejak siswa SMP mereka sekolah tinggi bahkan mungkin SD. Dengan model pembelajaran konstruktivistik, siswa diharapkan dapat membangun pemahaman baru tentang pemahaman yang sebelumnya telah dimiliki. Misalnya, dengan mencari asal-usul formula ini didapat. Dalam pendekatan konstruktivis siswa juga dituntut mampu menciptakan sub-sub pertanyaan baru sebagai langkah-langkah dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan subjek teorema Pythagoras, sehingga siswa tidak akan bingung dan mengalami kesulitan dalam menyelesaikannya. Jika pendekatan konstruktivis dapat dikuasai studi luar negeri siswa hasil siswa dalam matematika dapat ditingkatkan.

E. Perbedaan dan Persamaan Konstrtivisme, Behaviorisme,     dan Maturasionisme
Konstruktivisme berbeda dengan Behavorisme dan Maturasionisme. Bila behaviorisme menekankan keterampilan sebagai suatu tujuan pengajaran, konstruktivime lebih menekankan pengembangan konsep dan pengertian yang mendalam. Bila Maturasionisme lebih menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan langkah–langkah perkembangan kedewasaan. Konstruktivisme lebih menekankan pengetahuan sebagai konstruksi aktif sibelajar. Dalam pengertian Maturasionisme, bila seseorang mengikuti perkembangan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya ia akan menemukan pengetahuan yang lengkap. Menurut Konstruktivisme, bla seseorang tidak mengkonstruktiviskan pengetahuan secara aktif, meskipun ia berumur tua akan tetap tidakakan berkembang pengetahuannya.
Dalam teori ini kreatifitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis sesuatu hal karena mereka berfikir dan bukan meniru saja.
Kadang–kadang orang menganggap bahwa konstruktivisme sama dengan Teori Pencarian Sendiri (Inguiry Approach) dalam belajar. Sebenarnya kalau kita lihat secara teliti, kedua teori ini tidak sama. Dalam banyak hal mereka punya kesamaan,seperti penekanan keaktifan siswa untuk memenuhi suatu hal. Dapat terjadi bahwa metode pencarian sendiri memang merupakan metode konstruktivisme tetapi tidak semua semua konstruktivis dengan metode pencarian sendiri. Dalam konstruktivisme terlebih yang personal sosial, justru dikembangkan belajar bersama dalam kelompok. Hal ini yang tidak ada dalam metode mencari sendiri. Bahkan, dalam praktek metode pencarian sendiri tidak memungkinkan siswa mengkonstruk pengetahuan sendiri, karena langkah-langkah pencarian dan bagaimana pencarian dilaporkan dan dirumuskan sudah dituliskan sebelumnya.
E.     Kelebihan Metode Konstruktivisme
1.      Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
2.      pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang menantang siswa.
3.      pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
4.      pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai strategi belajar.
5.      pembelajaran konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi perubahan gagasan mereka.
6.      pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu jawaban yang benar.
F.      Kekurangan Metode Konstruktivisme
1.      Siswa membangun pengetahuan mereka sendiri, tidak jarang bahwa konstruksi siswa tidak cocok dengan pembangunan ilmuwan yang menyebabkan kesalahpahaman.
2.      Konstruktivisme pengetahuan kita menanamkan bahwa siswa membangun sendiri, hal ini pasti memakan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang berbeda.
3.      Situasi dan kondisi masing-masing sekolah tidak sama, karena tidak semua sekolah memiliki infrastruktur yang dapat membantu keaktifan dan kreativitas siswa.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN



Satuan Pendidikan       : MA Negeri 1 Kota Depok
Mata Pelajaran   : Fisika
Kelas/Semester    : X/Dua     
Peminatan           : MIA
Materi Pokok      : Suhu, Pemuaian, dan Pengaruh Kalor
Pertemuan Ke     : 1 dan 2
Alokasi Waktu    : 2 x 3 JP

A.     KOMPETENSI INTI
1.  Menghayati dan mengamalkan  ajaran agama yang dianutnya.

2.  Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan,  gotong royong, kerjasama, cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.

3.  Memahami dan menerapkan pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan,  kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.

4.  Mengolah,  menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak  terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.

B.     KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
1.1         Bertambah keimanannya dengan menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap kebesaran Tuhan yang menciptakannya.

1.2         Menyadari kebesaran Tuhan yang mengatur karakteristik fenomena gerak, fluida, kalor dan optik

2.1         Menunjukkan perilaku ilmiah (memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati; bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan peduli lingkungan) dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan percobaan dan berdiskusi

2.2         Menghargai kerja individu dan kelompok dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi melaksanakan percobaan dan melaporkan hasil percobaan

3.8         Menganalisis pengaruh kalor dan perpindahan kalor pada kehidupan sehari-hari
Indikator:
·     Menjelaskan pengaruh kalor dan perpindahan kalor pada kehidupan sehari-hari
·     Menerapkan pengaruh kalor dan perpindahan kalor pada kehidupan sehari-hari
·     Menganalisis pengaruh kalor dan perpindahan kalor pada kehidupan sehari-hari
·     Menyimpulkan hasil percobaan pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud zat

4.8         Merencanakan dan melaksanakan percobaan untuk menyelidiki karakteristik termal suatu bahan, terutama kapasitas  dan konduktivitas kalor
Indikator:
·     Menggunakan seperangkat alat percobaan pengaruh kalor
·     Menyaji dan mengolah data pengukuran.
·     Membuat laporan tertulis hasil praktik
·     Mempresentasikan hasil percobaan

C.     TUJUAN PEMBELAJARAN
  Kognitif:

v Siswa mampu memberikan definisi sendiri ,apa akibat terjadinya pemuaian .(C1)
v Siswa dapat merumuskan sendiri apa saja faktor yang mempengaruhi terjadinya pemuaian. (C2)

Penjelasan: Perkembangan Kognitif
Kognitif adalah kemampuan yang dimiliki anak untuk berfikir lebih kmpleks, serta kemampuan penalaran dan pemecahan masalah. Kemam puan umum yang mencakup seluruh bentuk pengenalan, termasuk didalamnya mengamati, memperhatikan, menyangka, membayangkan, menduga dan menilai.


Psikomotorik:

o   Siswa akan mencoba mempraktekan dengan hasil yang telah didapatkan untuk memndapatkan bukti.(P3)

Penjelasan: Perkembagan Psikomotorik
Perkembangan anak merujuk tumbuh, menyesuaikan diri, dan berubah sepanjang perjalanan hidupnya, melalui perkembangan fisik, perkembangan kepribadian, perkembangan sosioemosi, perkembangan pemikiran, dan perkembangan bahasa.

Afektif:

*    Siswa dapat menyatakan pendapatnya sendiri akan hasil prakteknya.( A3)
Penjelasan: Perkembangan Afektif
Afektif mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh setiap anak, yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran. Pemahaman guru tentang kesulitan dalam menyelasaikan dan bimbingan (pengawasan) untuk keberhasilan belajarnya.

D.     MATERI PEMBELAJARAN

                               



Suhu dan Pemuaian
Suhu menyatakan derajat panas dinginnya suatu benda. Alat untuk mengukur suhu adalah termometer. Termometer bekerja berdasarkan sifat termometrik zat, yaitu sifat fisis zat yang akan mengalami perubahan jika terjadi perubahan suhu. Sifat termometrik antara lain, perubahan volume zat cair, panjang logam, hambatan listrik, warna kawat yang berpijar, tekanan gas pada volume tetap, dan volume gas pada tekanan tetap.



Skala pada Termometer


Titik didih (titik tetap atas)
 
 
Titk beku (titik tetap bawah)
 
      C          R        F         K

Pemuaian panjang,
Pemuaian Luas,
Pemuaian Volume,
Nilai

Perubahan Wujud
Kalor adalah energi yang berpindah dari benda yang suhunya lebih tinggi ke benda yang suhunya lebih rendah ketika kedua benda bersentuhan.
Kalor Jenis (c), adalah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kg suatu zat sebesar 1 K atau 1ºC. kalor karena perubahan suhu,
Kapasitas Kalor (C), adalah banyak kalor yang harus diberikan dalam bentuk kalor untuk menaikkan suhu suatu benda sebesar satu derajat.
Asas Black,
 
Pemuaian Zat Padat


Melebur dan Membeku
Menguap, Mendidih, dan Mengembun
 
      


E.     METODE PEMBELAJARAN
·      Pendekatan Pembelajaran                  : pendekatan saintifik
·      Model Pembelajaran                          : Discovery
·      Metode       Pembelajaran                 : Eksperimen, diskusi dengan teman sekelompok, pemberi arahan oleh guru.

F.      MEDIA, ALAT DAN SUMBER BELAJAR
·     Media           : cetak dan elektronik (internet)
·     Alat              : termometer, pembakar bunsen, kaki tiga, statif, stopwatch, kalorimeter, gelas kimia
·     Sumber Belajar     : buku pegangan Fisika jilid 1, Buku Fisika Penunjang Aktivitas Peserta didik,
                             dan hands out

G.    LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
·     Pertemuan 1
Rincian Kegiatan
Waktu
Pendahuluan
·     Merefleksi hasil kompetensi (KD) sebelumnya tentang fluida statis
·     Menyampaikan tujuan pembelajaran
·     Melaksanakan pretes tentang suhu dan kalor
20 menit
Kegiatan Inti
Mengamati
·      Peserta didik menyimak simulasi pemuaian rel kereta api
·      Peserta didik melakukan studi pustaka untuk mencari tahu tentang suhu dan alat ukur suhu
·      Guru menilai keterampilan peserta didik mengamati

Menanya
·     Peserta didik mendiskusikan tentang suhu dan alat ukur yang digunakan untuk mengukur suhu (PB 8)
Pembahasan perkembangan kognitif :
Tahapan perkembangan kognitif  :- tahapan sensorimotor, - tahapan pra operasional, - tahapan operasional kongkrit, - tahapan operasional formal pada tahapan operasional formal terdapat pada siswa (11- dewasa) dapat berfikir secara logis,dapat membayangkan konsep-konsep yang tidak sesuai dengan realitas konkrit,dapat menerima perbedaan pendapat,mampu menguji hipotesis

Mencoba
·     Peserta didik dibagi dalam kelompok kecil, masing-masing terdiri atas 4 orang (PB 13 )
pengertian lupa :
menurut gulo (1982) dan reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidak mampuan mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipeajari atau dialami . Cara-cara mengurangi lupa alam belajar : -over learning, -extra study time , - memonic device , - pengelompokan, -latihan terbagi , - pengaruh letak bersambung
·     Peserta didik dalam kelompok diminta untuk melakukan eksperimen untuk mengetahui pengaruh panas atau dingin dan perbedaan suhu secara langsung dengan indera perasa (kegiatan 1); dan eksperimen untuk mengamati perubahan suhu dengan menggunakan termometer  (kegiatan 2) ( PB 3 )
Pengertian psikomotorik :
Psikomotorik diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal,keadaan, dan kegiatan yang melibatkan juga otot-otot juga gerakan-gerakannya.atau dapat pula dipahami sevagai segala keadaan yang meningkatkan atau mengasilkan simulasi /rangsangan terhadap kegiatan organ-organ fisik.
Hubungan psikomotorik dengan tingkah laku hasil belajar. Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil belajar psikomotor. Ryan (21980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku peserta didik selama proses pembelajaran praktik berlangsung.
·     Peserta didik mencatat hasil eksperimen yang sudah dilakukan
·     Guru menilai sikap peserta didik dalam kerja kelompok dan membimbing/menilai menilai keterampilan mencoba, menggunakan alat, dan mengolah data, serta menilai kemampuan peserta didik menerapkan konsep dan prinsip dalam pemecahan masalah

Mengasosiasi
·     Peserta didik menyimpulkan hubungan antara pengaruh panas dan dingin dengan perbedaan suhu dan dapat menentukan alat ukur suhu yang tepat untuk digunakan
·     Masing-masing kelompok mendiskusikan permasalahan yang disajikan dalam Lembar Kegiatan Peserta didik
·     Guru membimbing/menilai kemampuan peserta didik mengolah data dan merumuskan kesimpulan

Mengomunikasikan
·     Perwakilan dari dua kelompok menyampaikan hasil hitungan dan kesimpulan diskusi
·     Kelompok mendiskusikan pemecahan masalah
·     Guru menilai kemampuan peserta didik berkomunikasi lisan
100 menit
Penutup
·       Bersama peserta didik menyimpulkan hasil eksperimen yang sudah dilakukan
·       Memberikan tugas baca tentang pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud zat serta tentang kalor jenis
15 menit

·   Pertemuan 2
Rincian Kegiatan
Waktu
Pendahuluan
·   Merefleksi hasil pretes pertemuan sebelumnya
·   Menagih dan mengingatkan tugas baca
·   Menyampaikan tujuan pembelajaran
15 menit
Kegiatan Inti
Mengamati dan Menanya
·     Dua orang peserta didik dari kelompok berbeda diminta untuk memaparkan hasil tugas baca tentang pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud zat serta tentang kalor jenis
·     Peserta didik mengamati peragaan yang dilakukan oleh guru mengenai pemanasan es menjadi air
Mencoba
·     Peserta didik dibagi dalam kelompok kecil, masing-masing terdiri atas 4 orang
·     Beberapa kelompok diminta untuk melakukan eksperimen tentang pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud zat (kegiatan 3)
·     Kelompok yang lain diminta untuk melakukan eksperimen tentangkalor jenis zat (kegiatan 4)
·     Setiap kelompok mencatat data hasil pengamatan pada eksperimen yang telah dilakukan
·     Kelompok mendiskusikan pemecahan masalah yang berkaitan dengan eksperimen yang sudah dilakukan ( PB 10 )
PENJELASAN :
Hubungan antara nilai , moral dan siksp serta pengaruhnya terhadap tingkah laku
Karakteristik yang menonjol dalam perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif yang mulai mencapai tahapan berfikir operasional formal , yakni mulai mampu berfikir abstrak dan mulai mampu memecahkan maslah- maslah yang bersifat hipotesis.
·     Guru menilai sikap peserta didik dalam kerja kelompok dan kemampuan menerapkan konsep dan prinsip dalam pemecahan masalah dan keterampilan mencoba instruksi kerja
Mengasosiasi
·     Setiap kelompok saling bertukar data hasil eksperimen
·     Kelompok mendiskusikan hasil kegiatan tentang pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud zat serta tentang kalor jenis zat
·     Dengan fasilitasi guru, peserta didik merumuskan pengaruh kalor dan nilai kalor jenis beberapa zat
·     Guru menilai keterampilan mengolah dan menalar
Mengomunikasikan
·    Perwakilan kelompok memaparkan hasil diskusi pemecahan masalah
·    Guru menilai keterampilan menyaji dan berkomunikasi
100 menit
Penutup
·        Bersama peserta didik menyimpulkan pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud zat serta tentang kalor jenis zat
·        Memberikan tugas baca tentang perpindahan kalor
·        Melaksanakan postest (PB 8 )
Pengertian evaluasi :
Evaluasi adalah  educational evaluation, yakni sebagai penilaian dalam (bidang ) pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan. Adapun tujuan khusus dalam kegiatan evaluasi belajar : - mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa , - mendiagnosis kesulitan belajar, - memberikan umpan balik / perbaikan proses belajar mengajar, - penentuan kenaikan kelas.
Macam-macam evaluas belajar : pre-test dan post-test, evaluasi prasyarat,evaluasi diagnostik,evaluasi formatif, evaluasi sumatif, UN,evaluasi penempatan.
20 menit




H.    PENILAIAN
1.  Mekanisme dan prosedur
Penilaian dilakukan dari proses dan hasil. Penilaian proses dilakukan melalui observasi kerja kelompok, kinerja presentasi, dan laporan tertulis. Sedangkan penilaian hasil dilakukan melalui tes tertulis.
2.  Aspek dan Instrumen penilaian
Instrumen observasi menggunakan lembar pengamatan dengan fokus utama pada aktivitas dalam kelompok, tanggungjawab, dan kerjasama.
Instrumen kinerja presentasi menggunakan lembar pengamatan dengan fokus utama pada aktivitas peran serta, kualitas visual presentasi, dan isi presentasi
Instrumen laporan praktik menggunakan rubrik penilaian dengan fokus utama pada kualitas visual, sistematika sajian data, kejujuran, dan jawaban pertanyaan.
Instrumen tes menggunakan tes tertulis uraian dan/atau pilihan ganda
3.  Contoh Instrumen (Terlampir)



Mengetahui,                                                                                      Tangerang Selatan, Juli 2013
Kepala SMAN 6 Tangerang Selatan                                                           Guru Mata Pelajaran




Drs. Agus Hendrawan, M.Pd                                                            Nurhayati, S.TP
NIP: 196506151991111001                                                             NIP:-




I.        INSTRUMEN PENILAIAN
·     Pretest/postest
1.  Sebutkan alasan mengapa tangan Anda tidak dapat digunakan sebagai alat pengukur suhu!
2.  Sebutkan sifat-sifat termometrik zat yang bisa digunakan untuk mengukur suhu!
3.  Sebutkan beberapa contoh yang menunjukkan zat memuai!
4.  Berikan beberapa contoh yang dapat menunjukkan bahwa muai zat cair umumnya lebih besar dari pada zat padat!

Pedoman penilaian :
Skor maksimum : 40
Nomor 1 skor maksimum = 10
Nomor 2 skor maksimum = 10
Nomor 3 skor maksimum = 10
Nomor 4 skor maksimum = 10

Nilai kognitif =

Nilai kognitif   73 dinyatakan tuntas

·     Soal Uraian
1.  Suhu suatu benda adalah 68ºF. Berapakah suhunya jika diukur dengan :
a). skala Celcius;
b). skala Kelvin
2.  Mahluk dari luar angkasa mendarat di Bumi. Dalam skala suhu mereka, titik lebur es adalah 15ºX dan titik uapnya adalah 165ºX. Termometer mereka menunjukkan suhu di Bumi adalah 42ºX. Berapakah suhu ini pada skala Celcius?
3.  Sebatang pipa tembaga memiliki panjang 2 m pada suhu 25ºC. Jika koefisien muai panjang tembaga (α) = 17 x 10-6/ºC, tentukan panjang pipa pada suhu;
a). 100ºC                    b). 0ºC
4.  Berapa kalor yang harus ditambahkan pada 4,0 x 10-3 kg bola baja untu menaikkan suhunya dari 20ºC menjadi 70ºC?
5.  Sebanyak 60 kg air panas pada suhu 82ºC mengalir ke dalam bak mandi. Untuk menurunkan suhunya, 300 kg air dingin pada 10C ditambahkan ke dalam bak tersebut. Berapa suhu akhir campuran?
Pedoman penilaian :
Skor maksimum : 60
Nomor 1 skor maksimum = 10
Nomor 2 skor maksimum = 10
Nomor 3 skor maksimum = 10
Nomor 4 skor maksimum = 10
Nomor 5 skor maksimum = 10
Nomor 6 skor maksimum = 10

Nilai kognitif =

Nilai kognitif   73 dinyatakan tuntas


LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP
Mata Pelajaran               : FISIKA
Kelas/Semester     : X/Dua
Tahun Pelajaran   : 1013/1014
Kompetensi Dasar         : KD 3.8 dan 4.8
Waktu Pengamatan        : Saat Pembelajaran

Indikator sikap aktif dalam melaksanakan proses pembelajaran
1.     Kurang baik (KB)  jika menunjukkan sama sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran
2.     Baik  (B) jika menunjukkan sudah ada  usaha ambil bagian dalam pembelajaran  tetapi belum ajeg/konsisten
3.     Sangat baik (SB)  jika menunjukkan sudah ambil bagian  dalam menyelesaikan tugas kelompok  secara terus menerus dan ajeg/konsisten

Indikator sikap bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
1.     Kurang baik (KB)  jika sama sekali tidak berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
2.     Baik (B)  jika menunjukkan sudah ada  usaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten.
3.     Sangat Baik (SB)  jika menunjukkan adanya  usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok secara terus menerus dan ajeg/konsisten.

Indikator sikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
1.     Kurang baik (KB) jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
2.     Baik  (B) jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten.
3.     Sangat Baik (SB)  jika menunjukkan sudah ada usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.

Bubuhkan tanda (√) pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
KELAS       : X IPA 4
NO
NAMA PESERTA DIDIK
SIKAP
AKTIF
KERJASAMA
TOLERAN
KB
B
SB
KB
B
SB
KB
B
SB
1
AAS SUTIASTRI









2
AGUNG PUTRA SETIAWAN









3
ARIF RAHMANTO









4
CHAIRUNISSA RACHMAWARDHANIE










Keterangan:
KB    : Kurang baik
B       : Baik
SB     : Sangat baik


LEMBAR EKSPERIMEN PESERTA DIDIK

Nama Anggota Kelompok:
                   1. ______________________                             3. _______________________
                   2. ______________________                             4. _______________________

·     Kegiatan 1
Tujuan : mengetahui pengaruh panas atau dingin dan perbedaan suhu secara langsung melalui indera perasa  
  ( kulit )
Alat dan Bahan:
·        3 bejana berisi air, masing-masing berisi 1 liter air yang suhunya berbeda satu sama lain
·        Bejana pertama diisi dengan air langsung dari keran
·        Bejana kedua diisi air yang suhunya 3C lebih panas dari air keran
·        Bejana ketiga diisi air yang suhunya 6C lebih panas dari air keran

Langkah Kerja:
1.     Letakkan ketiga bejana di depan kelas
2.     Bentuklah suatu kelompok terdiri dari 3 siswa. Masing-masing siswa mencelupkan tangannya pada satu bejana pada saat yang bersamaan. Laporkan apa yang dirasakan masing-masing siswa tentang suhu air tersebut
3.     Bentuklah kelompok lain yang terdiri dari 3 siswa juga. Ketiga siswa tersebut mencelupkan tangannya pada setiap bejana secara bergiliran. Laporkan apa yang dirasakan masing-masing siswa tentang suhu air tersebut
4.     Mintalah seorang siswa untuk memasukan satu tangannya ke dalam bejana 1 dan tangan lainnya ke dalam bejana 3
5.     Tanyakanlah pada siswa yang lain, bagaimana perasaan siswa tersebut jika kemudian kedua tangannya dimasukkan ke dalam bejana 2
6.     Setelah beberapa saat, kedua tangan siswa tersebut dimasukkan ke dalam bejana 2 secara bersamaan. Laporkan apa yang dirasakannya tentang suhu air tersebut
7.     Cocokkan apa yang dirasakan siswa tersebut dengan perkiraan siswa lain. Jika ada perbedaan pendapat, tulislah perbedaannya dan mintalah alasan untuk pendapat berbeda tersebut

Pertanyaan
1.     Apa yang Anda rasakan ketika mencelupkan tangan pada masing-masing bejana?
2.     Bagaimana yang Anda rasakan ketika tangan dicelupkan pada bejana yang berbeda? Apa yang dapat disimpulkan?

·          Kegiatan 2
Tujuan: mengamati perubahan suhu dengan menggunakan thermometer

Alat dan Bahan
1.     Termometer                   4. Sumbat karet
2.     Tabung erlenmeyer        5. Air
3.     Pembakar spirtus 6. Stopwatch

Langkah Kerja
1.     Rangkailah alat percobaan seperti gambar!

2.     Isikan air pada tabung erlenmeyer. Usahakan jumlah air tidak terlalu banyak (kira-kira 100 cm3 agar suhu dapat naik cukup cepat)
3.     Pasangkan sumbat karet yang telah dilengkapi termometer pada leher tabung erlenmeyer. Pastikan ujung termometer menyentuh bagian permukaan air/terbenam dalam air
4.     Nyalakan pembakar spirtus dan panaskan tabung erlenmeyer berisi air tersebut
5.     Catat nilai perubahan suhu air pada tabel pengamatan


Selang waktu pemanasan (menit)
Suhu air (Cº)
0 menit

0,5 menit

1 menit

1,5 menit

2 menit

2,5 menit

3 menit


6.     Setelah data-data terkumpul, buatlah grafik hubungan antara suhu air dan selang waktu pemanasan

Pertanyaan
1.     Bagaimana kecenderungan perubahan suhu pada pemanasan air berdasarkan grafik hubungan antara suhu air dan selang waktu yang telah Anda buat?
2.     Kesimpulan apa yang dapa?t Anda peroleh

·     Kegiatan 3

Tujuan          : Menyelidiki pengaruh kalor terhadap perubahan suhu dan wujud zat
Alat dan Bahan  : thermometer, pembakar bunsen, kaki tiga, statif, stopwatch, es batu, lilin, neraca
Langkah Kerja:
1.     Susunlah alat seperti gambar berikut
2.     Timbanglah es batu, kemudian masukan ke dalam gelas. Catat suhu awal es dalam gelas (t0)
3.     Nyalakan pembakar bunsen.
4.     Mulailah menyalakan stopwatch sambil mengamati perubahan suhu yang terjadi.
5.     Catat suhu es setiap 30 sekon hingga semua es melebur menjadi air dengan suhu sekitar 30ºC. Masukan data ke dalam tabel
6.     Catat suhu pada saat es mencair
7.     Lakukan langkah 2, 3, 4, 5, dan 6 dengan es batu yang massanya berbeda
8.     Lakukan langkah yang sama dengan menggunakan lilin

Data Percobaan
1. Es batu pertama (massa = ............. kg)
Waktu (menit ke...)
Jumlah kalor yang diberikan
Suhu (t ºC)
Wujud benda
Terjadi perubahan wujud?  (ya/tidak)
0
0



0,5
0,5 Q



1,0






2. Es batu kedua (massa = ...... kg)
Waktu (menit ke...)
Jumlah kalor yang diberikan
Suhu (t ºC)
Wujud benda
Terjadi perubahan wujud?  (ya/tidak)
0
0



0,5
0,5 Q



1,0





3. Lilin
Waktu (menit ke...)
Jumlah kalor yang diberikan
Suhu (t ºC)
Wujud benda
Terjadi perubahan wujud?  (ya/tidak)
0
0



0,5
0,5 Q



1,0





Analisis Data
1.  Berdasarkan hasil percobaan dalam ketiga tabel, kecenderungan atau pola apa yang dihasilkan?
2.  Bagaimana pengaruh kalor pada saat tidak terjadi perubahan wujud?
3.  Bagaimana pengaruh kalor pada saat terjadi perubahan wujud?
4.  Selain perubahan suhu benda, adakah faktor lain yang mempengaruhi kalor yang diperlukan? Sebutkan !

Kesimpulan
1.  Pengaruh kalor terhadap suhu, yaitu .......................................................................................
2.  Pengaruh kalor terhadap wujud, yaitu .....................................................................................
4.  Kenaikan suhu benda bergantung pada ....................................................................................
5.  Banyaknya kalor yang dibutuhkan pada saat terjadi perubahan wujud bergantung pada ..........................

·     Kegiatan 4

Tujuan            : Menyelidiki peristiwa pertukaran kalor dan penentuan kalor jenis zat
Alat dan Bahan  : termometer (2 buah), pembakar bunsen, kaki tiga, statif, stopwatch, es batu, neraca, lilin, kalorimeter
Langkah Kerja:
1.  Susunlah alat seperti gambar berikut
2.  Timbang gelas kaca, kemudian tuangkan air ke dalamnya kira-kira 100 ml. Selanjutnya timbang gelas berisi air, kemudian panaskan hingga mencapai suhu sekitar 50ºC.
Massa gelas kosong   = ............................. kg
Massa gelas + air       = ............................. kg
Masa air (m1)             = ............................. kg
3.  Timbanglah kalorimeter kosong, kemudian isi dengan air kira-kira seperempatnya. Kemudian timbang kembali. Selanjutnya ukur suhu air dalam kalorimeter.
Massa kalorimeter kosong   = ......................... kg
Massa kalorimeter + air       = ......................... kg
Massa air (m2)                      = ......................... kg
Suhu air (t2)                         = ......................... ºC
Data Percobaan
Hasil pengukuran
Percobaan ke ...
1
2
3
m1



t1



m2



t2



tc




Analisis Data
1.  Isilah tabel berikut untuk menghitung kalor jenis logam
Kapasitas kalor kalorimeter (C)    = .......
Percobaan
m1
Δt1
m2
Δt2
Kalor yang diterima
Kalor jenis logam






















2.  Logam apa yang digunakan pada percobaan?
3.  Berdasarkan percobaan, berapakah rata-rata kalor jenis logam?
4.  Bandingkan hasil percobaan dengan data kalor jenis logam pada buku referensi. Bagaimana hasil yang diperoleh? Hitung kesalahan relatif hasil percobaan!
5.  Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi kesalahan dalam percobaan?

Daftar pustaka

Christian Reus-Smit. 2005. Constructivism. Theories of International Relations. 3rd ed.  Palgrave Macmillan : New York
Jackson, Robert and Georg Sorensen. 1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press Inc., Ney York.
Stefano Guzzini. 2000. A Reconstruction of Constructivism in International Relation. European Journal of International Relation. The Central European University. Budapest.
Wendt, Alexander. 1992. International Organization : Anarchy is What States Make of It.

[1] Jackson, Robert and Georg Sorensen. 1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press Inc., Ney York. p.307
[2] Ibid.
[3] Wendt, Alexander. 1992.International Organization : Anarchy is What States Make of It. p. 73
[4] Stefano Guzzini. 2000. A Reconstruction of Constructivism in International Relation. European Journal of International Relation. The Central European University. Budapest. p. 174
[5] Smith, Steve. New Approaches to International Theory.
[6] Andhika P., Wendy. Perspektif-Perspektif di dalam Hubungan Internasional.
[7] Bourke, Vernon J. 1962. Rationalism, p. 263 in Runes (1962)
[8] Stephen M. Walt, ‘International Relations: One World, Many Theories’, Foreign Policy, No. 110, Spring 1998




Tidak ada komentar:

Posting Komentar