A.
Latar Belakang Masalah
Saat ini
terdapat beragam inovasi baru di dalam dunia pendidikan terutama pada proses pembelajaran. Salah satu inovasi
tersebut adalah konstruktivisme. Pemilihan pendekatan ini lebih dikarenakan
agar pembelajaran membuat siswa antusias terhadap persoalan yang ada sehingga
mereka mau mencoba memecahkan persoalannya. Pembelajaran di kelas masih dominan
menggunakan metode ceramah
dan tanya jawab sehingga kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berintekrasi langsung kepada benda-benda konkret.
Seorang guru
perlu memperhatikan konsep awal siswa sebelum pembelajaran. Jika tidak
demikian, maka seorang pendidik tidak akan berhasil menanamkan konsep yang
benar, bahkan dapat memunculkan sumber kesulitan belajar selanjutnya. Mengajar
bukan hanya untuk meneruskan gagasan-gagasan pendidik pada siswa, melainkan
sebagai proses mengubah konsepsi-konsepsi siswa yang sudah ada dan di mana
mungkin konsepsi itu salah, dan jika ternyata benar maka pendidik harus
membantu siswa dalam mengkonstruk konsepsi tersebut biar lebih matang.
Maka dari
permasalahan tersebut, pemakalah tertarik melakukan penelitian konsep untuk
mengetahui bagaimana sebenarnya hakikat teori belajar konstruktivisme ini bisa
mengembangkan keaktifan siswa dalam mengkonstruk pengetahuannya sendiri,
sehingga dengan pengetahuan yang dimilikinya peserta didik bisa lebih memaknai
pembelajaran karena dihubungkan dengan konsepsi awal yang dimiliki siswa dan
pengalaman yang siswa peroleh dari lingkungan kehidupannya sehari-hari.
ANALISIS TEORI
dalam teori konstruktivisme bahwa belajar adalah proses membangun pengetahuan
melalui pengalaman nyata dari lapangan. Belajar bukan proses teknologisasi
(robotisasi) bagi siswa, melainkan proses membangun penghayatan terhadap suatu
materi yang disampaikan. Oleh karena itu, siswa diharapkan dapat terlibat
langsung dalam melakukan kegiatan belajar serta aktif dalam berpikir. Siswa
lebih diutamakan untuk mampu mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui
asimilasi dan akomodasi dan guru hanya sebagai fasilitator ataupun moderator.
Teori konstruktivisme tersebut menjadi bagian teori kognitivisme yang
dikembangkan oleh Piaget.
Tujuan penulisan
-
Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir
yang mandiri.
-
Mengembangkan kemampuan siswa untuk
mengajukan pertanyaan dan mencari sendiri pertanyaannya.
-
Untuk mengetahui model pembelajaran
konstruktivisme.
-
Untuk mengetahui kelebihan dan
kekurangan dari model pembelajaran konstruktivisme.
-
Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar
adalah tanggung jawab siswa itu sendiri.
A. PENGERTIAN KONSTRUKTIVISME
Konstruktivisme dalam arti dasar adalah membangun. Dimana
yang dibangun adalah konsep/materi yang akan dipelajari, yang mana konsep
tesebut dibangun oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Model pembelajaran kostruktivisme
di sini berarti suatu cara dimana individu atau anak didik tidak sekedar
mengimitasi dan membentuk bayangan dari apa yang diamati atau yang diajarkan
guru, tetapi secara aktif individu atau anak didik itu menyeleksi, menyaring,
memberi arti dan menguji kebenaran atas informasi yang diterimanya.
Model pembelajaran konstruktivistik adalah salah satu
pandangan dari proses pembelajaran yang menyatakan bahwa dalam proses
pembelajaran (memperoleh pengetahuan) diawali dengan terjadinya konflik
kognitif. Konflik kognitif dapat diselesaikan hanya melalui pengetahuan yang
akan dibangun sendiri oleh anak melalui pengalaman dari interaksi dengan
lingkungan. Konflik kognitif terjadi ketika interaksi antara konsepsi awal
sudah memiliki siswa dengan fenomena baru yang dapat diintegrasikan begitu
saja, sehingga perubahan yang diperlukan/modifikasi untuk mencapai keseimbangan
struktur kognitif. Konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan dibuat atau
terbangun di pikiran siswa sendiri ketika ia mencoba untuk mengatur pengalaman
barunya berdasarkan kerangka kognitif yang ada dalam pikiran, sehingga
pembelajaran matematika adalah proses memperoleh pengetahuan yang diciptakan
atau dilakukan oleh siswa itu sendiri melalui pengalaman transformasi individu
siswa. Selain itu, pentingnya pemecahan masalah keterampilan, terutama ketika
siswa bekerja atau belajar di bahan lain, akan memerlukan perubahan dalam
proses pembelajaran.
Menurut
faham konstruktivis pengetahuan merupakan konstruksi (bentukan) dari orang yang
mengenal sesuatu (skemata). Pengetahuan tidak bisa ditransfer dari guru kepada
orang lain, karena setiap orang mempunyai skema sendiri tentang apa yang
diketahuinya. Pembentukan pengetahuan merupakan proses kognitif di mana terjadi
proses asimilasi dan akomodasi untuk mencapai suatu keseimbangan sehingga
terbentuk suatu skema (jamak: skemata) yang baru. Seseorang yang belajar
itu berarti membentuk pengertian atau pengetahuan secara aktif dan
terus-menerus (Suparno, 1997).
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat
pendidikan, Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup
yang berbudaya modern.Konstruktivisme merupakan landasan berfikir (filosofi)
pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit
demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak
sekonyong-konyong. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau
kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkontruksi
pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
C.
Tokoh-tokoh teori konstruktivisme
1.
Jean Pieget
Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal
berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental
Piaget. Teori ini biasa juga disebut teori perkembangan intelektual. Teori
belajar tersebut berkenaan dengan kesiapan anak untuk belajar, yang dikemas
dalam tahap perkembangan intelektual dari lahir hingga dewasa. Setiap tahap
perkembangan intelektual yang dimaksud dilengkapi dengan ciri-ciri tertentu
dalam mengkonstruksi ilmu pengetahuan. Misalnya, pada tahap sensori motor anak
berpikir melalui gerakan atau perbuatan.
Piaget yang dikenal sebagai
konstruktivis pertama yang menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam
pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan
informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali
struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut
mempunyai tempat. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental
yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan rangsangan baru atau
memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan.
Selanjutnya,
Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama (Dahar, 1989: 159) menegaskan
bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan
akomodasi. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan,
akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi
baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat (Ruseffendi 1988: 133).
2.
Vygotsky
konstruktivisme sosial yang
dikembangkan oleh Vigotsky adalah bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam
interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam
belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Dalam
penjelasan lain mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi
antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial
dalam belajar.
Konstruktivis
ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi
suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Konstruktivisme ini
oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial (Taylor, 1993; Wilson, Teslow dan
Taylor,1993; Atwel, Bleicher & Cooper, 1998).
Ada dua
konsep penting dalam teori Vygotsky (Slavin, 1997), yaitu Zone of Proximal
Development (ZPD) dan scaffolding.
- Zone of Proximal Development (ZPD) merupakan jarak antara tingkat perkembangan sesungguhnya yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah secara mandiri dan tingkat perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah bimbingan orang dewasa atau melalui kerjasama dengan teman sejawat yang lebih mampu.
- Scaffolding merupakan pemberian sejumlah bantuan kepada siswa selama tahap-tahap awal pembelajaran, kemudian mengurangi bantuan dan memberikan kesempatan untuk mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya (Slavin, 1997). Scaffolding merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa untuk belajar dan memecahkan masalah. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, dorongan, peringatan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, dan tindakan-tindakan lain yang memungkinkan siswa itu belajar mandiri.
Beberapa ahli konstruktivisme yang
terkemuka berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna itu bermula dengan
pengetahuan atau pengalaman sedia ada murid. Rutherford dan Ahlgren berpendapat
bahawa murid mempunyai ide mereka sendiri tentang hampir semua perkara, di mana
ada yang betul dan ada yang salah. Jika kepahaman dan miskonsepsi ini diabaikan
atau tidak ditangani dengan baik, kepahaman atau kepercayaan asal mereka itu
akan tetap kekal walaupun dalam pemeriksaan mereka mungkin memberi jawaban
seperti yang dikehendaki oleh guru.
John Dewey menguatkan lagi teori
konstruktivisme ini mengatakan bahawa pendidik yang cekap harus melaksanakan
pengajaran dan pembelajaran sebagai proses menyusun atau membina pengalaman
secara berterusan. Beliau juga menekankan kepentingan penyertaan murid di dalam
setiap aktivitas pengajaran dan pembelajaran.
D. PRINSIP-PRINSIP KONSTRUKTIVISME
Secara
garis besar, prinsip-prinsip Konstruktivisme yang diterapkan dalam belajar
mengajar adalah:
1.
Pengetahuan
dibangun oleh siswa sendiri
2.
Pengetahuan
tidak dapat dipindahkan dari guru kemurid, kecuali hanya dengan keaktifan murid
sendiri untuk menalar
3.
Murid
aktif megkontruksi secara terus menerus, sehingga selalu terjadi perubahan
konsep ilmiah
4.
Guru
sekedar membantu menyediakan saran dan situasi agar proses kontruksi berjalan
lancar.
5.
Menghadapi
masalah yang relevan dengan siswa
6.
Struktur
pembalajaran seputar konsep utama pentingnya sebuah pertanyaan
7.
Mencari
dan menilai pendapat siswa
8.
Menyesuaikan
kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa.
Menyesuaikan
kurikulum untuk menanggapi anggapan siswa Dari semua itu hanya ada satu prinsip
yang paling penting adalah guru tidak boleh hanya semata-mata memberikan
pengetahuan kepada siswa . siswa harus membangun pengetahuan didalam benaknya
sendiri. Seorang guru dapat membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang
membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa, dengan
memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri
ide-ide dan dengan mengajak siswa agar menyadari dan menggunakan
strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. Guru dapat memberikan tangga
kepada siswa yang mana tangga itu nantinya dimaksudkan dapat membantu mereka
mencapai tingkat penemuan.
C. Lima Fasa
Model Konstruktivisme
Fasa-fasa pengajaran berasaskan model konstruktivisme
menurut `Children's Learning in Science Project' (Needham, 1987), 5-fasa adalah
seperti berikut:
|
No
|
Fasa
|
Tujuan/Kegunaan
|
langkah
|
|
I
|
Orientasi
|
Menarik minat
dan mengkondisikan suasana.
|
Awali
penyelesaian masalah sebentar, ditunjukkan cara oleh guru, tayangkan film,
atau video.
|
|
II
|
Pencetusan
Ide
|
Agar peserta
didik dan guru sadar tentang ide-ide terdahulu yang sudah ada
|
Guru
dianjurkan merancang aktivitas yang sesuai untuk membantu peserta didik
mengubah ide asal mereka.
|
|
III
|
Penstrukturan
semula ide
i. Pernjelasan dan pertukaran ii. Pengungkapan kepada situasi konflik iii. Pembinaan ide baru
iv. Penilaian
|
Menimbulkan
kesadaran tentang ide-ide alternatif yang berbentuk saintifik.
Menyadari bahawa idea-idea yang ada perlu diubah sesuai fungsinya, dikembangkan atau diganti dengan idea yang lebih saintifik.
Mengenalkan
idea-idea alternatif dan memeriksa secara kritis ide-ide yang tersedia dengan
sendiri
Menguji kebenaran ide-ide yang tersedia.
Mengubah,
mengembangkan atau bertukar ide
Menguji
kebenaran ide-ide baru yang muncul.
|
Perbincangan dalam kumpulan kecil dan buat laporan
Perbincangan,
pembacaan, input guru.
mengamati
kerja peserta didik,
melakukan
eksperimen.
|
|
IV
|
Penggunaan
ide
|
Pengukuhan
kepada ide yang telah dikembangkan dalam situasi baru dan biasa.
|
Guru
mengevaluasi hasil proyek yang ditugaskan kepada peserta didik.
|
|
V
|
Mengingat
kembali
|
Menyadari
tentang perubahan idea murid. Murid dapat membuat refleksi sejauh manakah ide
asal mereka telah berubah.
|
Mengambil
kesimpulan, membuat catatan peribadi dan lain-lain.
|
F. CIRI-CIRI PEMBELAJARAN SECARA
KONSTUKTIVISME
Adapun
ciri – ciri pembelajaran secara kontruktivisme adalah
1.
Memberi
peluang kepada murid membina pengetahuan baru melalui penglibatan dalam dunia
sebenar
2.
Menggalakkan
soalan/idea yang dimul akan oleh murid dan menggunakannya sebagai panduan
merancang pengajaran.
3.
Menyokong
pembelajaran secara koperatif Mengambilkira sikap dan pembawaan murid
4.
Mengambilkira
dapatan kajian bagaimana murid belajar sesuatu ide
5.
Menggalakkan
& menerima daya usaha & autonomi murid
6.
Menggalakkan
murid bertanya dan berdialog dengan murid & guru
7.
Menganggap
pembelajaran sebagai suatu proses yang sama penting dengan hasil pembelajaran.
8.
Menggalakkan
proses inkuiri murid mel alui kajian dan eksperimen.
D. Proses Belajar
Dalam Pandangan Konstruktivisme.
Proses belajar dari pandangan contructivistic dan dari
aspek-aspek penelitian, peran guru, sarana belajar, dan evaluasi pembelajaran
(Budiningsih, 2008:58).
1. Proses pembelajaran konstuktivisme.
Konseptual
proses belajar jika dilihat dari pendekatan kognitif, bukan sebagai perolehan
informasi yang masuk dalam satu arah dari luar ke dalam pengalaman siswa
melalui proses asimilasi dan akomodasi yang bermuara besar struktur kognitif.
Lebih kedalam kegiatan
belajar dalam hal proses daripada dalam hal memperoleh pengetahuan tentang
fakta-fakta yang penting.
2.
Peran siswa.
Menurut
pandangan ini belajar merupakan proses pembentukan pengetahuan. Pembentukan
harus dilakukan oleh penelitian. Siswa harus secara aktif melakukan kegiatan, berpikir aktif,
penyusunan, dan memberi makna pada hal-hal yang sedang dipelajari. Guru harus
mengambil inisiatif untuk mengatur lingkungan yang optimal yang memberikan
kesempatan untuk penelitian. Tetapi pada akhirnya yang paling menentukan adalah
terwujudnya gejala belajar adalah niat belajar siswa itu sendiri.
3. Peran guru.
Dalam
pendekatan ini peran guru atau pendidik membantu untuk membuat proses membangun
pengetahuan oleh siswa berjalan lancar. Guru tidak mentransfer pengetahuan yang
sudah memiliki, tetapi untuk membantu siswa untuk membentuk pengetahuannya
sendiri.
4. Belajar alat.
Pendekatan
ini menekankan bahwa peranan utama dalam belajar siswa adalah aktivitas
membangun pengetahuannya sendiri. Semuanya seperti bahan, media, peralatan,
lingkungan, dan fasilitas lainnya disediakan untuk membantu pembentukan
tersebut.
5. Evaluasi
Pandangan
ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar sangat mendukung munculnya berbagai
pandangan dan interpretasi realitas, konstruksi pengetahuan, serta kegiatan
lain yang didasarkan pada pengalaman.
Model
pembelajaran konstruktivis biasanya paling tepat bila diterapkan pada pelajaran
sains, salah satunya adalah matematika. Ambil contoh yang paling mudah, yaitu
dengan adanya matematika dikenal sebagai teorema Pythagoras. Mungkin teorema
Pythagoras tidak asing bagi kita, dan bahkan mungkin sudah sering menerapkannya
dalam kehidupan sehari-hari. Di antara teorema ada banyak matematika, teorema
ini merupakan salah satu teorema yang cukup terkenal. Bahan ini sudah dikenal
sejak siswa SMP mereka sekolah tinggi bahkan mungkin SD. Dengan model
pembelajaran konstruktivistik, siswa diharapkan dapat membangun pemahaman baru
tentang pemahaman yang sebelumnya telah dimiliki. Misalnya, dengan mencari
asal-usul formula ini didapat. Dalam pendekatan konstruktivis siswa juga
dituntut mampu menciptakan sub-sub pertanyaan baru sebagai langkah-langkah
dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan subjek teorema Pythagoras,
sehingga siswa tidak akan bingung dan mengalami kesulitan dalam
menyelesaikannya. Jika pendekatan konstruktivis dapat dikuasai studi luar
negeri siswa hasil siswa dalam matematika dapat ditingkatkan.
E.
Perbedaan dan Persamaan Konstrtivisme, Behaviorisme, dan Maturasionisme
Konstruktivisme
berbeda dengan Behavorisme dan Maturasionisme. Bila behaviorisme menekankan
keterampilan sebagai suatu tujuan pengajaran, konstruktivime lebih menekankan
pengembangan konsep dan pengertian yang mendalam. Bila Maturasionisme lebih
menekankan pengetahuan yang berkembang sesuai dengan langkah–langkah
perkembangan kedewasaan. Konstruktivisme lebih menekankan pengetahuan sebagai
konstruksi aktif sibelajar. Dalam pengertian Maturasionisme, bila seseorang
mengikuti perkembangan pengetahuan yang ada, dengan sendirinya ia akan
menemukan pengetahuan yang lengkap. Menurut Konstruktivisme, bla seseorang
tidak mengkonstruktiviskan pengetahuan secara aktif, meskipun ia berumur tua
akan tetap tidakakan berkembang pengetahuannya.
Dalam teori ini kreatifitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis sesuatu hal karena mereka berfikir dan bukan meniru saja.
Kadang–kadang orang menganggap bahwa konstruktivisme sama dengan Teori Pencarian Sendiri (Inguiry Approach) dalam belajar. Sebenarnya kalau kita lihat secara teliti, kedua teori ini tidak sama. Dalam banyak hal mereka punya kesamaan,seperti penekanan keaktifan siswa untuk memenuhi suatu hal. Dapat terjadi bahwa metode pencarian sendiri memang merupakan metode konstruktivisme tetapi tidak semua semua konstruktivis dengan metode pencarian sendiri. Dalam konstruktivisme terlebih yang personal sosial, justru dikembangkan belajar bersama dalam kelompok. Hal ini yang tidak ada dalam metode mencari sendiri. Bahkan, dalam praktek metode pencarian sendiri tidak memungkinkan siswa mengkonstruk pengetahuan sendiri, karena langkah-langkah pencarian dan bagaimana pencarian dilaporkan dan dirumuskan sudah dituliskan sebelumnya.
Dalam teori ini kreatifitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif mereka. Mereka akan terbantu menjadi orang yang kritis menganalisis sesuatu hal karena mereka berfikir dan bukan meniru saja.
Kadang–kadang orang menganggap bahwa konstruktivisme sama dengan Teori Pencarian Sendiri (Inguiry Approach) dalam belajar. Sebenarnya kalau kita lihat secara teliti, kedua teori ini tidak sama. Dalam banyak hal mereka punya kesamaan,seperti penekanan keaktifan siswa untuk memenuhi suatu hal. Dapat terjadi bahwa metode pencarian sendiri memang merupakan metode konstruktivisme tetapi tidak semua semua konstruktivis dengan metode pencarian sendiri. Dalam konstruktivisme terlebih yang personal sosial, justru dikembangkan belajar bersama dalam kelompok. Hal ini yang tidak ada dalam metode mencari sendiri. Bahkan, dalam praktek metode pencarian sendiri tidak memungkinkan siswa mengkonstruk pengetahuan sendiri, karena langkah-langkah pencarian dan bagaimana pencarian dilaporkan dan dirumuskan sudah dituliskan sebelumnya.
E. Kelebihan
Metode Konstruktivisme
1. Pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengungkapkan gagasan
secara eksplisit dengan menggunakan bahasa siswa sendiri, berbagi gagasan
dengan temannya, dan mendorong siswa memberikan penjelasan tentang gagasannya.
2. pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi pengalaman yang
berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa atau rancangan kegiatan
disesuaikan dengan gagasan awal siswa agar siswa memperluas pengetahuan mereka
tentang fenomena dan memiliki kesempatan untuk merangkai fenomena, sehingga
siswa terdorong untuk membedakan dan memadukan gagasan tentang fenomena yang
menantang siswa.
3. pembelajaran konstruktivisme memberi siswa kesempatan untuk berpikir tentang pengalamannya. Ini
dapat mendorong siswa berpikir kreatif, imajinatif, mendorong refleksi tentang
model dan teori, mengenalkan gagasan-gagasanpada saat yang tepat.
4. pembelajaran berdasarkan konstruktivisme memberi kesempatan kepada
siswa untuk mencoba gagasan baru agar siswa terdorong untuk memperoleh
kepercayaan diri dengan menggunakan berbagai konteks, baik yang telah dikenal
maupun yang baru dan akhirnya memotivasi siswa untuk menggunakan berbagai
strategi belajar.
5. pembelajaran konstruktivisme mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan merka setelah
menyadari kemajuan mereka serta memberi kesempatan siswa untuk mengidentifikasi
perubahan gagasan mereka.
6.
pembelajaran konstruktivisme memberikan lingkungan belajar yang kondusif yang mendukung siswa
mengungkapkan gagasan, saling menyimak, dan menghindari kesan selalu ada satu
jawaban yang benar.
F. Kekurangan Metode Konstruktivisme
1.
Siswa membangun pengetahuan mereka sendiri, tidak jarang bahwa konstruksi siswa
tidak cocok dengan pembangunan ilmuwan yang menyebabkan kesalahpahaman.
2.
Konstruktivisme pengetahuan kita menanamkan bahwa siswa membangun sendiri, hal
ini pasti memakan waktu yang lama dan setiap siswa memerlukan penanganan yang
berbeda.
3.
Situasi dan kondisi masing-masing sekolah tidak sama, karena tidak semua
sekolah memiliki infrastruktur yang dapat membantu keaktifan dan kreativitas
siswa.
RENCANA
PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
Satuan Pendidikan : MA Negeri 1 Kota Depok
Mata Pelajaran : Fisika
Kelas/Semester : X/Dua
Peminatan : MIA
Materi Pokok : Suhu, Pemuaian, dan Pengaruh Kalor
Pertemuan Ke : 1 dan 2
Alokasi Waktu : 2 x 3 JP
A.
KOMPETENSI INTI
1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya.
2.
Mengembangkan
perilaku (jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah
lingkungan, gotong royong, kerjasama,
cinta damai, responsif dan pro-aktif) dan menunjukan sikap sebagai bagian dari
solusi atas berbagai permasalahan bangsa dalam berinteraksi secara efektif
dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan
bangsa dalam pergaulan dunia.
3. Memahami dan menerapkan
pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dalam ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait
fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang
kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah.
4. Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah
konkret dan ranah abstrak terkait dengan
pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu
menggunakan metoda sesuai kaidah keilmuan.
B.
KOMPETENSI DASAR DAN INDIKATOR
1.1
Bertambah keimanannya dengan
menyadari hubungan keteraturan dan kompleksitas alam dan jagad raya terhadap
kebesaran Tuhan yang menciptakannya.
1.2
Menyadari kebesaran Tuhan yang
mengatur karakteristik fenomena gerak, fluida, kalor dan optik
2.1
Menunjukkan perilaku ilmiah
(memiliki rasa ingin tahu; objektif; jujur; teliti; cermat; tekun; hati-hati;
bertanggung jawab; terbuka; kritis; kreatif; inovatif dan peduli lingkungan)
dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi sikap dalam melakukan
percobaan dan berdiskusi
2.2
Menghargai kerja individu dan
kelompok dalam aktivitas sehari-hari sebagai wujud implementasi melaksanakan percobaan
dan melaporkan hasil percobaan
3.8
Menganalisis pengaruh kalor dan perpindahan kalor pada kehidupan
sehari-hari
Indikator:
· Menjelaskan pengaruh kalor dan perpindahan kalor pada kehidupan
sehari-hari
· Menerapkan pengaruh kalor dan perpindahan kalor pada
kehidupan sehari-hari
· Menganalisis pengaruh kalor dan perpindahan kalor pada kehidupan
sehari-hari
·
Menyimpulkan
hasil percobaan pengaruh kalor terhadap suhu dan
wujud zat
4.8
Merencanakan dan melaksanakan percobaan untuk menyelidiki karakteristik
termal suatu bahan, terutama kapasitas
dan konduktivitas kalor
Indikator:
· Menggunakan seperangkat alat percobaan pengaruh kalor
· Menyaji dan
mengolah data pengukuran.
· Membuat laporan
tertulis hasil praktik
·
Mempresentasikan
hasil percobaan
C. TUJUAN PEMBELAJARAN
Kognitif:
v Siswa mampu memberikan definisi sendiri ,apa akibat
terjadinya pemuaian .(C1)
v Siswa dapat merumuskan sendiri apa saja faktor yang mempengaruhi
terjadinya pemuaian. (C2)
Penjelasan: Perkembangan Kognitif
Kognitif adalah kemampuan yang dimiliki anak untuk berfikir
lebih kmpleks, serta kemampuan penalaran dan pemecahan masalah. Kemam puan umum
yang mencakup seluruh bentuk pengenalan, termasuk didalamnya mengamati,
memperhatikan, menyangka, membayangkan, menduga dan menilai.
Psikomotorik:
o Siswa akan mencoba mempraktekan dengan hasil yang telah
didapatkan untuk memndapatkan bukti.(P3)
Penjelasan: Perkembagan Psikomotorik
Perkembangan anak merujuk tumbuh, menyesuaikan diri, dan
berubah sepanjang perjalanan hidupnya, melalui perkembangan fisik, perkembangan
kepribadian, perkembangan sosioemosi, perkembangan pemikiran, dan perkembangan
bahasa.
Afektif:
Penjelasan: Perkembangan Afektif
Afektif mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh
setiap anak, yang juga perlu mendapatkan perhatian dalam pembelajaran.
Pemahaman guru tentang kesulitan dalam menyelasaikan dan bimbingan (pengawasan)
untuk keberhasilan belajarnya.
D. MATERI PEMBELAJARAN
Suhu dan Pemuaian
Suhu menyatakan derajat panas
dinginnya suatu benda. Alat untuk mengukur suhu adalah termometer. Termometer bekerja berdasarkan sifat termometrik zat, yaitu sifat fisis zat yang akan mengalami
perubahan jika terjadi perubahan suhu. Sifat termometrik antara lain, perubahan
volume zat cair, panjang logam, hambatan listrik, warna kawat yang berpijar,
tekanan gas pada volume tetap, dan volume gas pada tekanan tetap.
E. METODE PEMBELAJARAN
· Pendekatan Pembelajaran : pendekatan
saintifik
· Model Pembelajaran : Discovery
· Metode Pembelajaran : Eksperimen, diskusi dengan teman
sekelompok, pemberi
arahan oleh guru.
F.
MEDIA, ALAT DAN SUMBER BELAJAR
· Media : cetak dan
elektronik (internet)
·
Alat : termometer,
pembakar bunsen, kaki tiga, statif, stopwatch, kalorimeter, gelas kimia
· Sumber Belajar : buku pegangan Fisika jilid 1, Buku Fisika Penunjang
Aktivitas Peserta didik,
dan hands out
G.
LANGKAH-LANGKAH PEMBELAJARAN
· Pertemuan 1
|
Rincian Kegiatan
|
Waktu
|
|
Pendahuluan
·
Merefleksi hasil
kompetensi (KD) sebelumnya tentang fluida statis
·
Menyampaikan
tujuan pembelajaran
·
Melaksanakan pretes tentang suhu dan kalor
|
20 menit
|
|
Kegiatan Inti
Mengamati
·
Peserta didik menyimak simulasi pemuaian rel kereta api
·
Peserta didik
melakukan studi pustaka untuk mencari tahu tentang suhu dan alat ukur suhu
·
Guru menilai keterampilan peserta didik mengamati
Menanya
·
Peserta didik mendiskusikan tentang suhu dan alat ukur yang
digunakan untuk mengukur suhu (PB 8)
Pembahasan perkembangan kognitif :
Tahapan perkembangan kognitif :- tahapan sensorimotor, - tahapan pra
operasional, - tahapan operasional kongkrit, - tahapan operasional formal pada tahapan operasional formal terdapat
pada siswa (11- dewasa) dapat berfikir secara logis,dapat membayangkan
konsep-konsep yang tidak sesuai dengan realitas konkrit,dapat menerima perbedaan pendapat,mampu menguji hipotesis
Mencoba
·
Peserta didik
dibagi dalam kelompok kecil, masing-masing
terdiri atas 4 orang (PB 13 )
pengertian
lupa :
menurut
gulo (1982) dan reber (1988) mendefinisikan lupa sebagai ketidak mampuan
mengenal atau mengingat sesuatu yang pernah dipeajari atau dialami .
Cara-cara mengurangi lupa alam belajar : -over learning, -extra study time ,
- memonic device , - pengelompokan,
-latihan terbagi , - pengaruh letak bersambung
·
Peserta didik
dalam kelompok diminta untuk melakukan eksperimen untuk mengetahui pengaruh
panas atau dingin dan perbedaan suhu secara langsung dengan indera perasa (kegiatan 1); dan eksperimen untuk
mengamati perubahan suhu dengan menggunakan termometer (kegiatan
2)
( PB 3 )
Pengertian psikomotorik :
Psikomotorik diartikan sebagai istilah
yang menunjuk pada hal,keadaan, dan kegiatan yang melibatkan juga otot-otot
juga gerakan-gerakannya.atau dapat pula dipahami sevagai segala keadaan yang
meningkatkan atau mengasilkan simulasi /rangsangan terhadap kegiatan
organ-organ fisik.
Hubungan psikomotorik dengan tingkah
laku hasil belajar. Ada beberapa ahli yang menjelaskan cara menilai hasil
belajar psikomotor. Ryan (21980) menjelaskan bahwa hasil belajar keterampilan
dapat diukur melalui (1) pengamatan langsung dan penilaian tingkah laku
peserta didik selama proses pembelajaran praktik
berlangsung.
·
Peserta didik
mencatat hasil eksperimen yang sudah dilakukan
·
Guru menilai sikap peserta didik dalam kerja kelompok
dan membimbing/menilai menilai keterampilan mencoba, menggunakan alat, dan
mengolah data, serta menilai kemampuan peserta didik menerapkan konsep dan
prinsip dalam pemecahan masalah
Mengasosiasi
·
Peserta didik
menyimpulkan hubungan antara pengaruh panas dan dingin dengan perbedaan suhu
dan dapat menentukan alat ukur suhu yang tepat untuk digunakan
·
Masing-masing
kelompok mendiskusikan permasalahan yang disajikan dalam Lembar Kegiatan
Peserta didik
·
Guru membimbing/menilai kemampuan peserta didik
mengolah data dan merumuskan kesimpulan
Mengomunikasikan
·
Perwakilan dari
dua kelompok menyampaikan hasil hitungan dan kesimpulan diskusi
·
Kelompok
mendiskusikan pemecahan masalah
·
Guru menilai kemampuan peserta didik berkomunikasi
lisan
|
100 menit
|
|
Penutup
· Bersama peserta didik menyimpulkan hasil eksperimen yang sudah dilakukan
· Memberikan tugas baca tentang pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud zat serta tentang kalor jenis
|
15 menit
|
·
Pertemuan 2
|
Rincian Kegiatan
|
Waktu
|
|
Pendahuluan
·
Merefleksi hasil
pretes pertemuan sebelumnya
·
Menagih dan
mengingatkan tugas baca
·
Menyampaikan
tujuan pembelajaran
|
15 menit
|
|
Kegiatan Inti
Mengamati dan Menanya
·
Dua orang peserta
didik dari kelompok berbeda diminta untuk memaparkan hasil tugas baca tentang
pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud zat serta tentang kalor jenis
· Peserta didik mengamati peragaan yang dilakukan oleh
guru mengenai pemanasan es menjadi air
Mencoba
·
Peserta didik
dibagi dalam kelompok kecil, masing-masing terdiri atas 4 orang
·
Beberapa kelompok
diminta untuk melakukan eksperimen tentang pengaruh kalor terhadap suhu dan
wujud zat (kegiatan 3)
·
Kelompok yang
lain diminta untuk melakukan eksperimen tentangkalor jenis zat (kegiatan 4)
·
Setiap kelompok
mencatat data hasil pengamatan pada eksperimen yang telah dilakukan
·
Kelompok
mendiskusikan pemecahan masalah yang berkaitan
dengan eksperimen yang sudah dilakukan ( PB 10 )
PENJELASAN :
Hubungan antara nilai , moral dan
siksp serta pengaruhnya terhadap tingkah laku
Karakteristik yang menonjol dalam
perkembangan moral remaja adalah bahwa sesuai dengan tingkat perkembangan
kognitif yang mulai mencapai tahapan berfikir operasional formal , yakni
mulai mampu berfikir abstrak dan mulai mampu memecahkan
maslah- maslah yang bersifat hipotesis.
·
Guru menilai sikap peserta didik dalam kerja kelompok
dan kemampuan menerapkan konsep dan prinsip dalam pemecahan masalah dan
keterampilan mencoba instruksi kerja
Mengasosiasi
·
Setiap kelompok
saling bertukar data hasil eksperimen
·
Kelompok
mendiskusikan hasil kegiatan tentang pengaruh kalor terhadap suhu dan wujud
zat serta tentang kalor jenis zat
·
Dengan fasilitasi
guru, peserta didik merumuskan pengaruh kalor dan nilai kalor jenis beberapa
zat
·
Guru menilai keterampilan mengolah dan menalar
Mengomunikasikan
·
Perwakilan
kelompok memaparkan hasil diskusi pemecahan masalah
·
Guru menilai keterampilan menyaji dan berkomunikasi
|
100 menit
|
|
Penutup
·
Bersama peserta
didik menyimpulkan pengaruh kalor terhadap suhu
dan wujud zat serta tentang kalor jenis zat
·
Memberikan tugas
baca tentang perpindahan kalor
·
Melaksanakan postest (PB 8 )
Pengertian evaluasi :
Evaluasi adalah
educational evaluation, yakni sebagai penilaian dalam (bidang )
pendidikan atau penilaian mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pendidikan.
Adapun tujuan khusus dalam kegiatan evaluasi belajar : - mengetahui kemajuan
dan hasil belajar siswa , - mendiagnosis kesulitan belajar, - memberikan
umpan balik / perbaikan proses belajar mengajar, - penentuan kenaikan kelas.
Macam-macam evaluas belajar : pre-test dan post-test, evaluasi prasyarat,evaluasi
diagnostik,evaluasi formatif, evaluasi sumatif, UN,evaluasi penempatan.
|
20 menit
|
H.
PENILAIAN
1.
Mekanisme
dan prosedur
Penilaian
dilakukan dari proses dan hasil. Penilaian proses dilakukan melalui observasi
kerja kelompok, kinerja presentasi, dan laporan tertulis. Sedangkan penilaian
hasil dilakukan melalui tes tertulis.
2.
Aspek
dan Instrumen penilaian
Instrumen
observasi menggunakan lembar pengamatan dengan fokus utama pada aktivitas dalam
kelompok, tanggungjawab, dan kerjasama.
Instrumen
kinerja presentasi menggunakan lembar pengamatan dengan fokus utama pada
aktivitas peran serta, kualitas visual presentasi, dan isi presentasi
Instrumen
laporan praktik menggunakan rubrik penilaian dengan fokus utama pada kualitas
visual, sistematika sajian data, kejujuran, dan jawaban pertanyaan.
Instrumen
tes menggunakan tes tertulis uraian dan/atau pilihan ganda
3.
Contoh
Instrumen (Terlampir)
Mengetahui, Tangerang
Selatan, Juli 2013
Kepala SMAN 6 Tangerang Selatan Guru Mata Pelajaran
Drs. Agus Hendrawan, M.Pd Nurhayati,
S.TP
NIP: 196506151991111001 NIP:-
I.
INSTRUMEN PENILAIAN
· Pretest/postest
1.
Sebutkan alasan
mengapa tangan Anda tidak dapat digunakan sebagai alat pengukur suhu!
2.
Sebutkan sifat-sifat
termometrik zat yang bisa digunakan untuk mengukur suhu!
3.
Sebutkan beberapa
contoh yang menunjukkan zat memuai!
4.
Berikan beberapa
contoh yang dapat menunjukkan bahwa muai zat cair umumnya lebih besar dari pada
zat padat!
Pedoman
penilaian :
Skor
maksimum : 40
Nomor
1 skor maksimum = 10
Nomor
2 skor maksimum = 10
Nomor 3 skor maksimum = 10
Nomor 4 skor maksimum = 10
Nilai
kognitif =
Nilai
kognitif
73 dinyatakan
tuntas
· Soal Uraian
1.
Suhu suatu benda
adalah 68ºF. Berapakah suhunya jika diukur dengan :
a). skala Celcius;
b). skala Kelvin
2.
Mahluk dari luar
angkasa mendarat di Bumi. Dalam skala suhu mereka, titik lebur es adalah 15ºX
dan titik uapnya adalah 165ºX. Termometer mereka menunjukkan suhu di Bumi
adalah 42ºX. Berapakah suhu ini pada skala Celcius?
3.
Sebatang pipa
tembaga memiliki panjang 2 m pada suhu 25ºC. Jika koefisien muai panjang
tembaga (α) = 17 x 10-6/ºC, tentukan panjang pipa pada suhu;
a). 100ºC b). 0ºC
4.
Berapa kalor yang
harus ditambahkan pada 4,0 x 10-3 kg bola baja untu menaikkan
suhunya dari 20ºC menjadi 70ºC?
5.
Sebanyak 60 kg air
panas pada suhu 82ºC mengalir ke dalam bak mandi. Untuk menurunkan suhunya, 300
kg air dingin pada 10C ditambahkan ke dalam bak tersebut. Berapa suhu akhir
campuran?
Pedoman
penilaian :
Skor
maksimum : 60
Nomor
1 skor maksimum = 10
Nomor
2 skor maksimum = 10
Nomor 3 skor maksimum = 10
Nomor 4 skor maksimum = 10
Nomor 5 skor maksimum = 10
Nomor 6 skor maksimum = 10
Nilai
kognitif =
Nilai
kognitif
73 dinyatakan
tuntas
LEMBAR PENGAMATAN PENILAIAN SIKAP
Mata
Pelajaran : FISIKA
Kelas/Semester
: X/Dua
Tahun
Pelajaran : 1013/1014
Kompetensi Dasar :
KD 3.8 dan 4.8
Waktu
Pengamatan : Saat Pembelajaran
Indikator
sikap aktif dalam melaksanakan proses pembelajaran
1.
Kurang baik (KB) jika menunjukkan sama
sekali tidak ambil bagian dalam pembelajaran
2.
Baik (B)
jika menunjukkan sudah ada usaha ambil bagian dalam pembelajaran tetapi belum ajeg/konsisten
3.
Sangat baik (SB) jika menunjukkan
sudah ambil bagian dalam menyelesaikan
tugas kelompok secara terus menerus dan
ajeg/konsisten
Indikator
sikap bekerjasama dalam kegiatan
kelompok.
1.
Kurang baik (KB)
jika sama sekali tidak
berusaha untuk bekerjasama dalam kegiatan kelompok.
2.
Baik (B)
jika menunjukkan sudah
ada usaha untuk bekerjasama dalam
kegiatan kelompok tetapi masih belum ajeg/konsisten.
3.
Sangat Baik (SB)
jika menunjukkan adanya usaha bekerjasama dalam kegiatan kelompok
secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Indikator
sikap toleran terhadap proses
pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
1.
Kurang baik (KB) jika sama sekali tidak bersikap toleran terhadap
proses pemecahan masalah yang berbeda dan kreatif.
2.
Baik (B)
jika menunjukkan sudah ada usaha
untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan
kreatif tetapi masuih belum ajeg/konsisten.
3.
Sangat Baik (SB)
jika menunjukkan sudah ada
usaha untuk bersikap toleran terhadap proses pemecahan masalah yang berbeda dan
kreatif secara terus menerus dan ajeg/konsisten.
Bubuhkan
tanda (√) pada kolom-kolom sesuai hasil pengamatan.
KELAS : X IPA 4
|
NO
|
NAMA
PESERTA DIDIK
|
SIKAP
|
||||||||
|
AKTIF
|
KERJASAMA
|
TOLERAN
|
||||||||
|
KB
|
B
|
SB
|
KB
|
B
|
SB
|
KB
|
B
|
SB
|
||
|
1
|
AAS SUTIASTRI
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
AGUNG PUTRA SETIAWAN
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
ARIF RAHMANTO
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
CHAIRUNISSA RACHMAWARDHANIE
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
KB : Kurang baik
B
: Baik
SB : Sangat baik
Nama
Anggota Kelompok:
1. ______________________ 3.
_______________________
2.
______________________ 4.
_______________________
· Kegiatan 1
Tujuan : mengetahui pengaruh panas atau dingin dan perbedaan suhu
secara langsung melalui indera perasa
( kulit )
Alat dan
Bahan:
·
3 bejana berisi
air, masing-masing berisi 1 liter air yang suhunya berbeda satu sama lain
·
Bejana pertama
diisi dengan air langsung dari keran
·
Bejana kedua diisi
air yang suhunya 3C lebih panas dari air keran
·
Bejana ketiga diisi
air yang suhunya 6C lebih panas dari air keran
Langkah
Kerja:
1.
Letakkan
ketiga bejana di depan kelas
2.
Bentuklah
suatu kelompok terdiri dari 3 siswa. Masing-masing siswa mencelupkan tangannya
pada satu bejana pada saat yang bersamaan. Laporkan apa yang dirasakan
masing-masing siswa tentang suhu air tersebut
3.
Bentuklah
kelompok lain yang terdiri dari 3 siswa juga. Ketiga siswa tersebut mencelupkan
tangannya pada setiap bejana secara bergiliran. Laporkan apa yang dirasakan
masing-masing siswa tentang suhu air tersebut
4.
Mintalah
seorang siswa untuk memasukan satu tangannya ke dalam bejana 1 dan tangan
lainnya ke dalam bejana 3
5.
Tanyakanlah
pada siswa yang lain, bagaimana perasaan siswa tersebut jika kemudian kedua
tangannya dimasukkan ke dalam bejana 2
6.
Setelah
beberapa saat, kedua tangan siswa tersebut dimasukkan ke dalam bejana 2 secara
bersamaan. Laporkan apa yang dirasakannya tentang suhu air tersebut
7.
Cocokkan
apa yang dirasakan siswa tersebut dengan perkiraan siswa lain. Jika ada
perbedaan pendapat, tulislah perbedaannya dan mintalah alasan untuk pendapat
berbeda tersebut
Pertanyaan
1.
Apa
yang Anda rasakan ketika mencelupkan tangan pada masing-masing bejana?
2.
Bagaimana
yang Anda rasakan ketika tangan dicelupkan pada bejana yang berbeda? Apa yang
dapat disimpulkan?
·
Kegiatan 2
Tujuan: mengamati perubahan suhu dengan menggunakan thermometer
Alat dan Bahan
1.
Termometer 4. Sumbat karet
2.
Tabung
erlenmeyer 5. Air
3.
Pembakar
spirtus 6. Stopwatch
Langkah Kerja
1.
Rangkailah
alat percobaan seperti gambar!
2.
Isikan
air pada tabung erlenmeyer. Usahakan jumlah air tidak terlalu banyak (kira-kira
100 cm3 agar suhu dapat naik cukup cepat)
3.
Pasangkan
sumbat karet yang telah dilengkapi termometer pada leher tabung erlenmeyer.
Pastikan ujung termometer menyentuh bagian permukaan air/terbenam dalam air
4.
Nyalakan
pembakar spirtus dan panaskan tabung erlenmeyer berisi air tersebut
5.
Catat
nilai perubahan suhu air pada tabel pengamatan
|
Selang waktu
pemanasan (menit)
|
Suhu air (Cº)
|
|
0 menit
|
|
|
0,5 menit
|
|
|
1 menit
|
|
6.
Setelah
data-data terkumpul, buatlah grafik hubungan antara suhu air dan selang waktu
pemanasan
Pertanyaan
1.
Bagaimana
kecenderungan perubahan suhu pada pemanasan air berdasarkan grafik hubungan
antara suhu air dan selang waktu yang telah Anda buat?
2.
Kesimpulan
apa yang dapa?t Anda peroleh
· Kegiatan 3
Tujuan : Menyelidiki pengaruh kalor terhadap perubahan suhu dan
wujud zat
Alat dan Bahan : thermometer, pembakar bunsen, kaki tiga, statif,
stopwatch, es batu, lilin, neraca
Langkah
Kerja:
1.
Susunlah
alat seperti gambar berikut
2.
Timbanglah
es batu, kemudian masukan ke dalam gelas. Catat suhu awal es dalam gelas (t0)
3.
Nyalakan
pembakar bunsen.
4.
Mulailah
menyalakan stopwatch sambil mengamati perubahan suhu yang terjadi.
5.
Catat
suhu es setiap 30 sekon hingga semua es melebur menjadi air dengan suhu sekitar
30ºC. Masukan data ke dalam tabel
6.
Catat
suhu pada saat es mencair
7.
Lakukan
langkah 2, 3, 4, 5, dan 6 dengan es batu yang massanya berbeda
8.
Lakukan
langkah yang sama dengan menggunakan lilin
Data
Percobaan
1. Es batu pertama (massa = ............. kg)
|
Waktu (menit
ke...)
|
Jumlah kalor yang
diberikan
|
Suhu (t ºC)
|
Wujud benda
|
Terjadi perubahan
wujud? (ya/tidak)
|
|
0
|
0
|
|
|
|
|
0,5
|
0,5 Q
|
|
|
|
|
1,0
|
|
|
|
|
2. Es batu kedua (massa = ...... kg)
|
Waktu (menit
ke...)
|
Jumlah kalor yang
diberikan
|
Suhu (t ºC)
|
Wujud benda
|
Terjadi perubahan
wujud? (ya/tidak)
|
|
0
|
0
|
|
|
|
|
0,5
|
0,5 Q
|
|
|
|
|
1,0
|
|
|
|
|
3. Lilin
|
Waktu (menit
ke...)
|
Jumlah kalor yang
diberikan
|
Suhu (t ºC)
|
Wujud benda
|
Terjadi perubahan
wujud? (ya/tidak)
|
|
0
|
0
|
|
|
|
|
0,5
|
0,5 Q
|
|
|
|
|
1,0
|
|
|
|
|
Analisis
Data
1. Berdasarkan hasil percobaan dalam ketiga tabel,
kecenderungan atau pola apa yang dihasilkan?
2. Bagaimana pengaruh kalor pada saat tidak terjadi perubahan
wujud?
3. Bagaimana pengaruh kalor pada saat terjadi perubahan
wujud?
4. Selain perubahan suhu benda, adakah faktor lain yang
mempengaruhi kalor yang diperlukan? Sebutkan !
Kesimpulan
1. Pengaruh kalor terhadap suhu, yaitu
.......................................................................................
2. Pengaruh kalor terhadap wujud, yaitu
.....................................................................................
4. Kenaikan suhu benda bergantung pada
....................................................................................
5. Banyaknya kalor yang dibutuhkan pada saat terjadi
perubahan wujud bergantung pada ..........................
· Kegiatan 4
Tujuan : Menyelidiki peristiwa pertukaran kalor dan penentuan
kalor jenis zat
Alat
dan Bahan : termometer (2 buah), pembakar bunsen, kaki tiga, statif,
stopwatch, es batu, neraca, lilin, kalorimeter
Langkah
Kerja:
1. Susunlah alat seperti gambar berikut
2. Timbang gelas kaca, kemudian tuangkan air ke dalamnya
kira-kira 100 ml. Selanjutnya timbang gelas berisi air, kemudian panaskan
hingga mencapai suhu sekitar 50ºC.
Massa
gelas kosong =
............................. kg
Massa
gelas + air =
............................. kg
Masa
air (m1) = ............................. kg
3. Timbanglah kalorimeter kosong, kemudian isi dengan air
kira-kira seperempatnya. Kemudian timbang kembali. Selanjutnya ukur suhu air
dalam kalorimeter.
Massa
kalorimeter kosong =
......................... kg
Massa
kalorimeter + air =
......................... kg
Massa
air (m2) = .........................
kg
Suhu
air (t2) =
......................... ºC
Data
Percobaan
|
Hasil pengukuran
|
Percobaan ke ...
|
||
|
1
|
2
|
3
|
|
|
m1
|
|
|
|
|
t1
|
|
|
|
|
m2
|
|
|
|
|
t2
|
|
|
|
|
tc
|
|
|
|
Analisis
Data
1.
Isilah tabel
berikut untuk menghitung kalor jenis logam
Kapasitas kalor kalorimeter (C) = .......
|
Percobaan
|
m1
|
Δt1
|
m2
|
Δt2
|
Kalor yang
diterima
|
Kalor jenis logam
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
Logam apa yang
digunakan pada percobaan?
3.
Berdasarkan
percobaan, berapakah rata-rata kalor jenis logam?
4.
Bandingkan hasil
percobaan dengan data kalor jenis logam pada buku referensi. Bagaimana hasil
yang diperoleh? Hitung kesalahan relatif hasil percobaan!
5.
Faktor apa saja
yang dapat mempengaruhi kesalahan dalam percobaan?
Daftar pustaka
Christian
Reus-Smit. 2005. Constructivism. Theories of International Relations.
3rd ed. Palgrave Macmillan : New York
Jackson,
Robert and Georg Sorensen. 1999. Introduction to International Relations.
Oxford University Press Inc., Ney York.
Stefano
Guzzini. 2000. A Reconstruction of Constructivism in International Relation.
European Journal of International Relation. The Central European University.
Budapest.
Wendt,
Alexander. 1992. International Organization : Anarchy is What States Make of
It.
[1] Jackson, Robert and Georg Sorensen.
1999. Introduction to International Relations. Oxford University Press
Inc., Ney York. p.307
[2] Ibid.
[3] Wendt, Alexander. 1992.International
Organization : Anarchy is What States Make of It. p. 73
[4] Stefano Guzzini. 2000. A
Reconstruction of Constructivism in International Relation. European
Journal of International Relation. The Central European University. Budapest.
p. 174
[5] Smith, Steve. New Approaches to
International Theory.
[6] Andhika P., Wendy. Perspektif-Perspektif
di dalam Hubungan Internasional.
[8] Stephen M. Walt, ‘International
Relations: One World, Many Theories’, Foreign Policy, No. 110, Spring
1998



Tidak ada komentar:
Posting Komentar